TUTUP TELINGA DAN HANYA MELIHAT
#OPINI KEADILAN
Apakah suara kami masih terdengar?
Atau gaungnya kami hanya di anggap seperti auman harimau tanpa taring sehingga kalian anggap sampah yang tak ternilai? atau lupa dengan apa yang pernah kami buat?
Hai penguasa!
Jangan pura-pura lupa sosok kami yang diumpamakan seperti anak ayam tanpa induknya yang di lempar sana sini hanya dalam bekasan yang tak berujung kepekaan.
Kami bagaikan anak haram yang selalu di kucilkan karena tidak pernah diharapkan
namun sadar dan tidak sadar, kami adalah pelanjut tahta itu sendiri dan penyambung tangan lewotanah.
Hai penguasa!
Jeritan hati kami diindetik dengan rasa rindu ingin bisa melakukan sesuatu untuk lewotanah tercinta, tapi kenapa kami sering dianggap hanya selongsong botol bekas yang tak ada artinya?
kami sadar pernah bertingkah diluar batas, namun alasan kami hanya butuh sebuah pengakuan dan bukan celaan. Ekspresi kami berlebihan itu wajar karena emosi anak muda sukar untuk di kendalikan. Namun tangan kalian harus merangkul dan mengayomi bukan dengan mengucilkan dan menjaga jarak dgn kami.
Hai penguasa!
Kalian bisa saja sedang mentup telinga rapat-rapat tapi ingat bahwa suara-suara kami terus berteriak minta sebuah keadilan.
Lewat tulisan ini kami menyuarakan sebuah perjuangkan dan kami berusaha membuka setiap mata yang selama ini pura-pura buta.
Saat ini kami berusaha memberi angin segar untuk memecahkan mata hati kalian yang sudah membeku seperti batu. kami berusaha tersenyum padahal hati sedang sakit, kami berusaha ramah walau hati terluka perih...
Hay penguasa!
Masih adakah tempat di hati kalian ataukah kami cuman benalu yang akan selalu merusak hama yang dan memakan makanan induknya?
Jangan jadikan diri kami seumpama kertas tissue yang hanya di gunakan seperlunya setelah itu di buang begitu saja.
Semoga aspirasi kami ini tolong didengarkan dan jangan pura-pura dalam keheningan tanpa bermakna.
#pura-pura lupa
Celoteh para kaum tertindas...
Oleh
Bung Ricky Betekeneng
Foto Bung Ricky Betekeneng
Apakah suara kami masih terdengar?
Atau gaungnya kami hanya di anggap seperti auman harimau tanpa taring sehingga kalian anggap sampah yang tak ternilai? atau lupa dengan apa yang pernah kami buat?
Hai penguasa!
Jangan pura-pura lupa sosok kami yang diumpamakan seperti anak ayam tanpa induknya yang di lempar sana sini hanya dalam bekasan yang tak berujung kepekaan.
Kami bagaikan anak haram yang selalu di kucilkan karena tidak pernah diharapkan
namun sadar dan tidak sadar, kami adalah pelanjut tahta itu sendiri dan penyambung tangan lewotanah.
Hai penguasa!
Jeritan hati kami diindetik dengan rasa rindu ingin bisa melakukan sesuatu untuk lewotanah tercinta, tapi kenapa kami sering dianggap hanya selongsong botol bekas yang tak ada artinya?
kami sadar pernah bertingkah diluar batas, namun alasan kami hanya butuh sebuah pengakuan dan bukan celaan. Ekspresi kami berlebihan itu wajar karena emosi anak muda sukar untuk di kendalikan. Namun tangan kalian harus merangkul dan mengayomi bukan dengan mengucilkan dan menjaga jarak dgn kami.
Hai penguasa!
Kalian bisa saja sedang mentup telinga rapat-rapat tapi ingat bahwa suara-suara kami terus berteriak minta sebuah keadilan.
Lewat tulisan ini kami menyuarakan sebuah perjuangkan dan kami berusaha membuka setiap mata yang selama ini pura-pura buta.
Saat ini kami berusaha memberi angin segar untuk memecahkan mata hati kalian yang sudah membeku seperti batu. kami berusaha tersenyum padahal hati sedang sakit, kami berusaha ramah walau hati terluka perih...
Hay penguasa!
Masih adakah tempat di hati kalian ataukah kami cuman benalu yang akan selalu merusak hama yang dan memakan makanan induknya?
Jangan jadikan diri kami seumpama kertas tissue yang hanya di gunakan seperlunya setelah itu di buang begitu saja.
Semoga aspirasi kami ini tolong didengarkan dan jangan pura-pura dalam keheningan tanpa bermakna.
#pura-pura lupa
Celoteh para kaum tertindas...

Komentar
Posting Komentar