PULANG ATAU BERTAHAN?


 Oleh: Beni Arjon

Apakah ada yang melarang ketika seseorang hendak pulang kampung? Apakah ada yang menolak ketika para perantau tiba di kampung halamannya? Pertanyaan ini berangkat dari riuh redahnya gelombang persepsi  publik terhadap penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).  Corona Virus Disease (COVID-19) merupakan pandemik atau wabah yang berskala global. Hingga saat ini tercatat 212 negara yang sudah positif terpapar COVID-19. Tak bisa dibantah,  bahwa Indonesia merupakan salah satu dari bagian daftar negara tersebut. Jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia, terus meningkat dari hari ke hari.

Dalam menanggapi peristiwa ini, Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah terus berupaya untuk mencegah penyebaran COVID-19 ini. Ragam kebijakan dan langkah strategis yang terus diupayakan, baik dalam bidang hukum, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun dalam bidang Keagamaan. Namun, wabah ini terus merebak tanpa mengenal sekat dan golongan. Mirisnya, wabah ini  muncul dengan adanya gejala khusus maupun tanpa adanya gejala. Sehingga membuat masyarakat kwatir atau resah akan kemungkinan positif terinfeksi virus corona.

Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia belum dapat memastikan sampai kapan kita bertahan dalam situasi yang begitu sulit ini. Artinya, sejauh itu juga kita berhenti beraktivitas di luar rumah yang tentu berujung  pada rendah dan bahkan hilangnya pendapatan, sementara di saat yang sama kebutuhan hidup terus berjalan dari waktu ke waktu. Hal tersebut cenderung dialami oleh kalangan ekonomi kelas menengah ke bawah atau buruh harian lepas. Kita dihadapkan pada situasi yang sangat dilematis, mau maju atau diam di tempat sama-sama membawa dampak buruk. Bak diikat tali sehasa. Maka satu-satunya pilihan adalah mundur atau pulang ke kampung halaman. Lantas, jika bertahan siapa yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup? Silahkan pulang! Tidak ada yang melarang keinginan  Anda untuk pulang ke kampung halaman. Karena Anda adalah salah satu masyarakat di daerah tersebut. Anda merantau hanyalah mencari pengalaman hidup dan selebihnya untuk menafkahi keluarga Anda, baik Istri, anak, ataupun orang tua.

Masih ingatkah kita akan  245 warga Indonesia yang berhasil dievakuasi atau dipulangkan dari Wuhan beberapa waktu yang lalu? Apakah kita tidak tau bahwa Wuhan adalah histori awal pandemik ini? Di mana daya nalar dan kekritisan kita ketika itu?  Lantas mengapa  sekarang kita ribut, tentang kepulangan para perantau? Ingat! Mereka sedang sulit! Apakah daya humanistik kita sedang rapuh?  Toh, mereka juga manusia sama seperti kita yang sama-sama memiliki kemampuan untuk menjaga diri dari wabah ini. Atau  adakah yang mau terpapar oleh virus corona? Tentu, tidak! Mereka juga pulang biaya sendiri, bukan kita yang membiayai perjalanan mereka  apalagi Pemerintah sama sekali tidak membiaya perjalanan pulang meraka. Boro-boro Pemerintah setempat mau membiayai perjalanan pulang mereka, APD saja minim hingga petugas medis menggunakan jas hujan.

Apabila rendahnya resnpons masyarakat dan Pemerintah setempat belum menelurkan sejumlah kebijakan strategis dalam menangani wabah ini, maka dapat dipastikan akan terus berkembang setiap waktu. Sebelum nasi menjadi bubur, maka berpikir keraslah sejak sekarang, sehingga tidak seperti beberapa daerah lain di Indonesia yang jumlah kasusnya terus bertambah. Kepada siapupun yang hendak pulang ke daerahnya masing-masing diharapkan mengikuti protokol kesehatan penaganan COVID-19 dan aturan yang berlaku pada daerah tersebut, misalnya isolasi mandiri atau menggunakan fasilitas karantina selama 14 hari atau aturan yang lainnya,  iya ikuti saja, karena pada prinsipnya Pemerintah setempat berharap daerahnya tetap aman, apalagi daerah-daerah yang hingga saat ini, belum terpapar COVID-19 atau fasilitas kesehatannya belum memadai, tentu sangat tepat apabila Pemerintah dan masyarakat setempat bersikeras mengamankan wilayah atau daerahnya dari serangan pandemik yang membahayakan sekaligus mematikan ini.

Sekian, Salam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUMDes Waimatan Menyalurkan Sembako Gratis dan Sembako Murah Untuk Masyarakatnya